Posted by: Bang Bob | October 31, 2009

Surabaya’s Attitude

Penampilan necis, tapi kalo habis makan, gelegek’an (bersendawa) sekeras-kerasnya. Cantik dan wangi, tapi kalo ngomong selalu misuh (mengumpat) selugas-lugasnya. Kaget. Jauh dari kesan tampilan luarnya. Membuat kalimat “don’t judge a book by its cover!” jadi menyeruak keluar dari benak terdalam kita. Banyak penampilan yang menipu.

Kalo kita jadi seorang reporter tivi, trus keliling suatu daerah untuk interview dadakan dengan sekedar menanyakan “apa yang anda ketahui tentang Batman?”. *kok Batman?! suka-suka gue donk!* Jawabannya macem-macem. Ada yang bilang superhero. Yang satunya ngasi jawaban kalo Batman temennya Superman. Yang maniak film bilang pahlawan dari Gotham. Yang lagi nyuci baju bilang “yang celana dalemnya diluar itu lho, mas”. Ya. Variasi. Semua ngasi jawaban sekenanya. Apa yang ada di kepalanya, itu yang diomongkan.

Kita keliling lagi untuk tanya pertanyaan berbeda, yaitu “apa yang anda ketahui tentang kota Surabaya?”. Situ bilang ibukota Jatim. Sana bilang letak tugu pahlawan berada. Yang lagi nongkrong bilang “kota yang panas, mas!”. Yang lagi kecepit pintu teriak “jangkrik!”. Yang lagi nyuci baju “mas, cucian saya banyak, tolong jangan diganggu dulu ya!”. Tapi mayoritas, berdasarkan penelitian pihak yang berwenang, pada bilang kalo Surabaya adalah kota pahlawan. Mbah google aja bilang “the city of heroes”. *padahal heroes itu serial tivi asing*

Nah, trus kenapa Surabaya? Karna aku sudah tinggal seumur hidup di Surabaya. Dan ada apa dengan Surabaya? Yah, makin lama makin nggak mencerminkan kota pahlawan menurutku. Kenapa bisa? Pahlawan itu harus dihargai dan patut ditiru. Sedangkan orang-orang Surabaya semakin nggak boleh untuk dijadikan contoh.

Yes. Memang orang Surabaya terkenal agak kasar. Tapi bukan itu masalahnya. Aku lebih menyoroti mereka dalam hal berkendara di jalanan. Banyak hal yang terjadi disana. Lumayan banyak perilaku yang memicu emosi. Membuat Surabaya makin “panas” aja.

Dalam keramaian lalu lintas Surabaya, banyak yang terlibat. Pengendara mobil, sepeda motor, kendaraan umum, sepeda onthel, becak, dan pejalan kaki. Beberapa diantara mereka tidak saling menghargai satu sama lain. Yang ini serobot sana. Yang itu nelikung sini. Yang satunya tiba-tiba berenti nggak di pinggir jalan. Yang lainnya nyebrang nggak di tempatnya, nggak liat-liat pula. Wuedeh. Nggak karuan. Arus jalanan yang seharusnya bisa mengalir meskipun padat, jadi bisa nggak bergerak hingga waktu yang cukup lama. Apa nggak mau kalah sama Jakarta nih ceritanya?

Selain itu, pelanggaran rambu makin marak terjadi. Nggak boleh puter balik, eeh nyelonong aja orang-orang. Nunggu lampu merah di zebracross. Lampu sudah merah tapi makin dikebut kendaraannya. Kalo aku amatin, biasanya gini ini dipicu sama satu orang yang ndableg, trus yang dilainnya pada ngikutin. Dengan prinsip “dia aja kayak gitu, masa’ aku enggak”. Ya. Jadi contoh yang buruk bukan?! Aku mikir apa mereka nggak takut tilang. Trus aku menyimpulkan sendiri, mungkin kalo ketangkep bakal rame-rame, trus masa’ iya sih polisi mau nangkep segitu banyaknya. Repot kali ya. Kayaknya ada pemikiran yang salah, yaitu peraturan itu ada untuk dilanggar. Ancuur. Pinter emang ngakalin kata-kata.

Sebaiknya mereka saling menghormati. Mereka harus menempatkan posisi mereka sebagai pengendara yang lainnya juga. Nggak boleh suka semaunya sendiri. Jalanan adalah fasilitas umum. Yang dipake bersama. Rame-rame. Tapi tetap harus berbagi. Kalo pemkotnya mau nambah ruas jalan lagi, secara nggak langsung akan nambah jumlah populasi kendaraan, dan entah jadi berapa orang yang akan saling tidak menghormati selama berkendara.

Sejauh ini aku sudah menjadi orang yang aku inginkan dalam tulisan ini. Tidak sombong. Tapi berusaha memberi contoh buat yang lain. Pengen jadi contoh yang baik. Contoh yang moga-moga bisa ngasi influence besar buat Surabaya. Agent of change. Heleeh.

Hehehe, berasa yang punya Surabaya aja sok-sok ngatur. Tapi jujur ini dari hati. Sebuah cerita, sebuah pengakuan. *opo maneh!* Tadi sudah bolak-balik ditelikung sama orang.

Oke deh kalo gitu. Be a responsible driver! Driving safely! Son and wife are waiting at home. Dan aku mau istirahat dulu.

Advertisements

Responses

  1. haha. Itu kan yg sudah sering saya blg k km,. Tambahan saja jangan melebihi marka jalan kalo d lampu merah, d kota saya tdk ada yg sampe maju2 hampir ketengah gt, intinya gx sbr pol org surabaya..

    • Lha itu kan sudah aku tulis juga. Nunggu lampu merah di zebracross. Yaah, kayaknya orang Surabaya bussinesman smua, jadi sok-sokan keburu-buru.

  2. “Cantik dan wangi, tapi kalo ngomong selalu misuh (mengumpat)”
    Gak cantik, gak wangi, & ga pernah misuh 😀
    wah saya bukan orang Surabaya, tampaknya..

    Huahaha baca artikel ini jd inget mobil di Auto2000 tadi yg nyelonong + ngeklakson kenceng bgt -_-

    • Waa, iyaya.. sopir Auto2000 yang tadi pasti orang Surabaya! hehehee..
      Meskipun gak cantik & gak wangi :-D, kamu tetep diterima jadi orang Surabaya kok.

  3. mm.. menurutku sampe saat ini hal yg gak bisa ditolerir dari surabaya itu adalah PANASnya, mas. kalo surabaya gak panas, aku pasti udah cinta mati.. 😉

    • yaiyalaah.. kalo Surabaya ada di Inggris baru adem, hahaa.. parahnya tu sampe nggak ada angin nggak ada hujan, ckckck..
      eniwei, makasih ya Yan dah mampir,.

  4. oke setuju bob,makannya kalo berkendara jangan kenceng2,lari 80 km/jam aja..
    okokokok

    • 80 km/jam dalam kota tu banter lah bro! Santai aja kalo di jalan.. Kasi lah 60 km/jam sambil nikmatin perjalanan.. 🙂
      thanks bro dah mampir,.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: